Home / BERITA BOLA / Klopp yang Rock n’ Roll vs Guardiola yang Jazzy

Klopp yang Rock n’ Roll vs Guardiola yang Jazzy

Pep Guardiola dan Jurgen Klopp. © AFP

 

Pasarliga.org – Oleh Richard Andreas 

Bagaimana permainan sepak bola seharusnya? Umpan ke teman, melewati lawan, jebloskan bola ke gawang, mudah bukan?

Sejatinya sepak bola memang salah satu olah raga yang sederhana. Sebelas pemain dalam satu tim berusaha melawan sebelas pemain tim lawan, satu bola diperebutkan, dua gawang menjadi sasaran, ditandingkan dalam waktu 2×45 menit atau lebih, pula terkadang mencapai babak adu penalti yang menegangkan.

Namun, justru bermain sepak bola sederhana adalah yang paling sulit dilakukan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Johan Cruyff, ahli taktik sepak bola pada masanya: “Playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is.”

Pernyataan dari sosok tersohor di dunia sepak bola sekelas Johan Cruyff tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja. Cruyff dapat dikatakan sebagai pelatih pertama yang meletakkan pondasi taktik sepak bola modern yang kerap digunakan di masa ini.

Cruyff memiliki visi sepak bola yang sangat jelas, yakni penguasaan bola dan pergerakan pemain yang minim namun efektif. Prinsip yang diterapkannya saat melatih Barcelona, prinsip tersebut pun masih digunakan oleh Barca sampai saat ini, meskipun ada sedikit perubahan dari masa keemasan Barca.

Sebagaimana wajarnya pembangun pondasi, tentu Cruyff harus meneruskannya pada seseorang untuk mempertahankan dan mengembangkan taktiknya. Dia pun memilih Pep Guardiola sebagai suksesornya, saat itu Guardiola muda dianggap memiliki bakat sebagai ahli taktik sepak bola.

Josep Guardiola
Josep Guardiola

Belajar di bawah asuhan Cruyff, Guardiola mengaku ‘mata batin’-nya akan dunia sepak bola langsung terbuka. Dia yang dulu menyangka sudah cukup memahami sepak bola ternyata merasa kerdil di hadapan Cruyff. Bahkan Guardiola tak layak berteduh di bawah bayangan Cruyff.

“Saya kira saya memahami sepak bola, tetapi ketika saya mulai bekerja bersamanya (Cruyff, Red) dunia baru terbuka di depan saya. Bukan hanya saya, tetapi seluruh generasi pemain saat itu. Johan membuat saya memahami permainan ini, sepak bola adalah permainan paling sulit di dunia karena sangat terbuka dan setiap situasi sangat berbeda yang membuat anda harus cepat membuat keputusan,” ungkap Guardiola pada theguardian.

Bertahun-tahun kemudian, kesempatan Guardiola untuk mengejawantahkan seluruh ilmunya yang dipelajari di bawah Cruyff akhirnya tiba. Dia diangkat sebagai pelatih kepala Barcelona pada tahun 2008 dan mempersembahkan belasan trofi sampai tahun 2012. Saat itu, Guardiola menyempurnakan tiki-taka yang sangat identik dengan Barcelona.

Beralih dari Barcelona, Guardiola pun menerapkan taktik yang intinya sama di Bayern Munchen (2013-2016). Lagi-lagi kejeniusan Guardiola berhasil mempersembahkan trofi untuk Bayern Munchen.

Namun saat melatih Bayern, Guardiola menemukan lawan seimbang yang tak disangka-sangka, yakni Jurgen Klopp. Uniknya, alih-alih memainkan sepak bola indah yang mengandalkan penguasaan bola, Klopp yang kala itu melatih Borussia Dortmund justru menyerang Guardiola dengan gaya sepak bola yang pragmatis dan sporadis.

Jurgen Klopp dan Pep Guardiola.
Jurgen Klopp dan Pep Guardiola.

Tercatat dari delapan pertemuan keduanya saat masih melatih Bayern dan Dortmund (2013-2015), Guardiola dan Klopp harus puas berbagi hasil dengan masing-masing empat kemenangan dan empat kekalahan.

Dua tahun berselang, Klopp yang lebih dahulu hijrah ke Premier Leagueuntuk melatih Liverpool kembali bertemu Guardiola yang ditunjuk sebagai pelatih Manchester City. Pada dua pertemuan di musim 2016/17 lalu – di musim pertama Guardiola – Klopp sukses unggul setelah Liverpool mengalahkan Man City (1-0) di Anfield dan sukses menahan imbang (1-1) di Etihad Stadium.

Gaya bermain Klopp dan Guardiola pun masih sama. Guardiola masih mengandalkan penguasaan bola dan tiki-taka (meskipun tidak murni) dan Klopp mengandalkan serangan cepat dan bertenaga. Guardiola yang Jazzy melawan Klopp yang Rock n’ Roll.

Klopp bahkan terang-terangan menyebut bahwa dirinya sangat tidak menyukai sepak bola yang dimainkan Guardiola. Baginya, sepak bola adalah soal semangat berapi-api, sepak bola tidak boleh membosankan, sepak bola harus bisa membuat emosi meledak-ledak.

“Itu (tiki-taka, Red) bukan selera saya. Saya tidak suka menang dengan penguasaan bola sampai 80%. Buat saya, itu tidak cukup. Sepak bola adalah pertarungan, bukan sepakbola yang kalem, itulah yang saya suka. Di Jerman kami menyebutnya ‘Sangat Inggris’ – hari yang diguyur hujan, lapangan yang becek, skor 5-5, wajah semua pemain kotor, lalu semuanya pulang dan tidak bisa bermain sampai beberapa pekan ke depan karena terlalu letih,” tegas Klopp saat berkomentar soal taktik Guardiola.

Saat ini, Klopp pun kembali menjelma menjadi lawan terberat Guardiola. Terakhir, pada leg pertama perempat final Liga Champions, Kamis (5/4) dini hari, Klopp sekali lagi membawa Liverpool mengalahkan permainan cantik Man City racikan Guardiola. Tidak tanggung-tanggung, Liverpool menang tiga gol tanpa balas (3-0).

Dengan kemenangan tersebut berarti Klopp memperpanjang rekor apiknya saat melawan Manchester City musim ini. Meski dipermalukan 0-5 oleh Man City di Etihad Stadium pada pertemuan pertama Premier League musim ini, namun Klopp berhasil membalas 4-3 di pertemuan kedua di Anfield dan menambahkan kemenangan Liga Champions di daftar tersebut.

Sejauh ini, Klopp vs Guardiola: 7-5.

Sejauh ini, Klopp-Liverpool vs Guardiola-Man City: 3-1.

Sejauh ini – tanpa bermaksud menafikan kehebatan kedua genre musik tersebut – Rock n’ Roll masih mengungguli Jazz.

Tentu Klopp saat ini menjadi sumber sakit kepala Guadiola yang paling utama. Apa sebab taktiknya tak mempan melawan tim Klopp? Guardiola pasti tak habis pikir. Bahkan pada leg pertama Liga Champions tersebut, Man City sampai dibuat tidak mampu membuat tembakan ke gawang satu kalipun. Hal yang tidak mudah melawan tim dengan penyerangan seperti Man City.

Klopp dan timnya pun tidak bermain sendiri pada pertandingan tersebut. Dia mendapat aliran deras dukungan dari puluhan ribu pendukung Liverpool yang memadati Anfield Stadium. Kombinasi kedua elemen ini – taktik Klopp dan atmosfer Anfield – terbukti membuat tim Guardiola mati kutu.

“Sepakbola harus emosional, sangat cepat, sangat kuat, tidak membosankan, bukan sebuah (permainan, Red) catur. Tentu taktik itu penting, tapi taktik harus bisa dimainkan dengan hati. Taktik penting, kita tidak bisa menang tanpa taktik, tapi emosi-lah yang membuat perbedaan. Ada nyawa dalam setiap permainan kita, itu amat penting,” ungkap Klopp.

Klopp dan Guardiola sama-sama menerapkan gaya bermain yang menyerang, sama-sama asyik dilihat penonton, lantas mengapa Klopp mampu mengalahkan Guardiola? Tentu atmosfer Anfield berperan penting, tetapi tidak hanya itu bukan?

Sesaat setelah laga usai, Klopp yang berbicara kepada pers menjelaskan taktik yang dia terapkan. “Dalam jenis permainan yang banyak bertahan ini, kami tidak boleh bermain terlalu dalam, kami harus berada di lokasi yang tepat di lapangan, jadi ketika kami berhasil merebut bola maka ada kesempatan besar bagi kami untuk memanfaatkan ruang kosong tersebut.”

“Karena anda tidak bisa memainkan sepak bola anda melawan berbagai pola fantastis ini (tiki-taka, Red) jika anda tidak bisa memanfaatkan semua ruang kosong dan langsung bergerak kompak saat dibutuhkan,” sambung Klopp.

Klopp memang memahami taktik yang tepat untuk mengonter permainan Guardiola. Klopp bahkan layak disebut sebagai anti-guardiola. Tetapi, dalam permainan sepak bola, taktik bukanlah satu-satunya faktor kemenangan. Kekuatan mental yang tak mau menyerah juga dapat mejadi salah satu faktor penting.

Di sanalah keistimewaan Klopp. Pelatih nyentrik ini dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan para pemainnya. Dengan caranya sendiri, Klopp dapat memotivasi para pemain dan memaksimalkan potensinya (hal ini biasanya dilakukan Klopp dengan obrolan empat mata).

Sebab, sebagaimana kata tua-tua, jika ada satu anugerah Tuhan yang paling hebat dalam diri manusia maka itu hanyalah ‘kekuatan kehendak’.

Klopp berhasil menyulut api semangat dalam diri tiap-tiap pemain Liverpool. Pada laga tersebut, dapat dilihat seluruh pemain Liverpool berlari seperti kesetanan, menutup ruang di sana-sini yang membuat Man City tak bisa mengembangkan permainan terbaiknya.

Kesempatan para penikmat sepak bola untuk melihat duel Klopp dengan Guardiola pun masih terbuka saat Liverpool melawat ke kandang Man City untuk menjalani Leg Kedua Liga Champions. Sejauh ini, dari 13 pertemuan dua pelatih jenius tersebut, Klopp masih unggul dengan tujuh kemenangan berbanding dengan Guardiola yang baru mengumpulkan lima kemenangan (1 seri).

Daftar tersebut tentu masih bisa bertambah panjang, mengingat karier Klopp di Liverpool dan Guardiola di Man City yang diprediksi akan berumur panjang. Jadi siapkah menyaksikan duel Rock n’ Roll melawan Jazz sekali lagi? Manakah yang lebih unggul?

Namun, menyingkir sejenak dari duel tersebut. Bukankah sebagai penggemar sepak bola sejati harusnya tiap-tiap kita mampu menikmati suguhan pertandingan yang menakjubkan? Tanpa mengerdilkan satu sama lain, bukankah pecinta musik Rock juga bisa manggut-manggut saat mendengarkan orkestrasi Jazz? Dan sebaliknya hal yang sama juga terjadi pada pecinta musik Jazz yang mengagumi aksi panggung Rock n’ Roll.

 

sumber : bola.net

About pasarliga

Check Also

Jadwal Pertandingan Liga Champions Grup E-H, Selasa (2/10) Malam dan Rabu (3/10/2018) dini hari WIB

  Pasarliga.org  –  TURIN – Laga kedua fase grup Liga Champions 2018/2019 kembali bergulir. Sesuai dengan ...